Kesehatan Mental Pengguna Instagram di Indonesia



Instagram merupakan salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh masyarakat di Indonesia. Saat ini, instagram merupakan platform yang tepat untuk mendapatkan pengakuan mengenai keberadaan diri seseorang. Melalui instagram, kita bisa membagikan, melihat foto, video tentang kehidupan sehari-hari. Kita bisa melihat kehidupan pasangan yang sempurna, barang branded yang mereka miliki, dan kehidupan menyenangkan lainnya. Bila kecanduan menggunakan instagram tanpa kontrol diri, lama-lama kita bisa terkena mental illness. Dengan menggunakan instagram, kita bisa melihat bagaimana kehidupan sempurna public figure yang kita idolakan. Saat keinginan kita tidak terpenuhi, kita merasa memiliki banyak kekurangan dan tidak bersyukur. Berusaha untuk menjadi sempurna walau tersakiti secara fisik/mental. Dengan keinginan itu, maka bisa mengganggu kesehatan mental yang terlalu memaksakan diri dan tidak bisa menerima serta mencintai diri sendiri apa adanya.

Dikutip dari Skripsi Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Stories Dengan Kesehatan Mental yang ditulis oleh Mayvita Innani Taqwa, orang yang terkena gangguan mental itu bisa terjadi karena faktor dimana individu tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok, biologis, harga diri, ekonomi, kebutuhan nafsu mencintai dan dicintai, kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan rasa aman, dll (Giska, 2009).


1.    Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Fenomena yang paling sering terjadi di Instagram ialah fenomena membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita sering menemukan foto dan video melalui insta stories di akun instagram seseorang. Seperti barang branded yang dimilikinya, membuat kita juga menginginkan hal yang sama. Ingin punya tas Chanel, perfume Baccarat, skincare Laneige, dan barang branded lainnya. Dengan melihat barang branded itu, kita merasa iri. Kita menjadi orang yang tidak pandai bersyukur padahal kita baru-baru ini dibelikan tas bagus oleh orangtua. Lalu kita mencari cara agar bisa memamerkan dan menyaingi kepunyaan milik orang lain. Karena ekonomi yang tidak bisa dipaksakan, maka kita membeli barang kw dan memamerkannya di instagram.

Begitupun dengan memiliki pasangan. Kebahagiaan dan keseruan yang diperlihatkan di instagram membuat kebanyakan orang merasa iri dengan perlakuan dari pasangan lain. Kita membandingkan pasangan kita dengan pasangan yang lain. Kita mencoba untuk menuntut pasangan kita untuk bersikap dan berperilaku sebagaimana yang dilihat di akun instagram seseorang. Jika pasangan kita tidak dapat memenuhi keinginan kita, kita akan marah dan merasa tidak puas. Padahal, sebelumnya, kita dan pasangan memiliki hubungan yang harmonis dan baik-baik saja. Namun, hanya karena iri dengan kehidupan pasangan lain yang kita lihat di insta stories orang, kita menjadi egois dan tidak bersyukur dengan keadaan pasangan kita.

Begitupun sebaliknya, kita menjadi orang yang berusaha mati-matian memiliki pasangan yang sempurna dan memamerkannya di instagram. Namun apakah yang kita share di instagram merupakan suatu fakta yang benar adanya? Atau hanya sebatas pemuas diri berharap mendapatkan pujian dari orang lain? Ya, kebanyakan dari kita memang hanya ingin dilihat dan dipuji.

Lalu, apakah yang kita lihat di layar hp 100% fakta? Atau hanya sandiwara semata? Lebih dari itu, hanya diri kita sendirilah yang harus cerdas dalam menilai dan menerima itu semua.



Tidak hanya itu. Wajah mulus juga menjadi tujuan utama kita. Setiap wajah cantik yang kita temukan di instagram membuat kita berdiri di depan kaca. Membandingkan wajah kita dengan wajah cantik itu. Lagi-lagi kita merasa menjadi orang yang paling banyak kekurangan di dunia ini. Merasa tidak memiliki kelebihan apa pun yang bisa dibanggakan di instagram. Dan pada akhirnya, kita mencari cara untuk bangkit. Merias wajah secantik mungkin, mengedit wajah agar terlihat mulus, dan membagikannya di instagram. Begitu seterusnya hingga kita tidak sadar bahwa yang kita lakukan ialah suatu kebohongan. Membohongi diri kita sendiri dan orang lain. Menyakiti diri sendiri yang tidak pernah puas dengan kehidupan yang apa adanya, dan terlalu mengejar kesempurnaan.

2.    Pencari Likes

Pengguna instagram tentunya tahu fitur like di instagram. Sebuah fitur yang memperlihatkan bahwa foto atau video kita menjadi yang terbaik. Kita juga menargetkan harus bisa tembus like lebih dari 100 atau 1000. Banyak yang mati-matian mengedit wajah, memberikan filter pada foto dan videonya agar terlihat bagus dan menarik di mata orang. Intinya apa yang ingin kita bagikan harus benar-benar sempurna.

Kita juga bersedia menjadi fake hanya untuk popularitas. Ketika kita baru membagikan foto dan video kita, setiap detik, menit, jam kita selalu mengecek siapa yang memberikan like pada foto dan video yang baru saja kita upload. Kita juga melihat dan menandai siapa yang memberikan like itu. Bahkan, bila teman dekat kita tidak memberikan like, maka kita merasa kesal. Kita merasa bahwa mereka pelit. Bahkan hubungan pertemanan bisa hancur hanya karena like.

Ketika likes tembus dari yang ditargetkan atau bahkan lebih, maka kita akan merasa senang. Namun ketika likes kurang dari yang kita harapkan, maka kita menjadi kecewa. Kita sedih dan mencari tahu apa kekurangan dari foto dan video kita. Kita berusaha untuk memenuhi standar sosial di masyarakat Indonesia. Kita bukan menjadi diri kita sendiri, namun kita menjadi apa yang orang lain inginkan dan lihat.

Tidak ada rasa kepercayaan diri ketika berhubungan dengan instagram. Memang benar adanya, kita hanya ingin diakui keberadaannya dan hanya ingin dipuji tentang apa yang kita bagikan tanpa tahu apakah itu memang diri kita yang sebenarnya atau tidak. Lalu, tanpa kita sadari ternyata kita sudah terkena gangguan mental. Dan pada akhirnya, kita sendiri yang tidak bisa menerima diri kita apa adanya, tidak bisa menghargai diri sendiri, dan tidak bisa mencintai diri sendiri.

Bersyukur pada bulan November tahun 2019, fitur like di instagram sudah disembunyikan. Maka ini adalah solusi dari pihak instagram sendiri untuk meningkatkan kesehatan mental para penggunanya.

Dari fenomena diatas, maka harus ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin setiap individu tidak bisa mengontrol dirinya, hanya saja kita sebagai manusia tentunya memiliki prinsip yang dapat membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan menjadi orang yang self-love.

Dikutip dari skripsi Mayvita Innani Taqwa, Kartono & Andari mengatakan setiap individu harus bisa menerapkan beberapa prinsip di dalam hidupnya agar mentalnya tetap sehat, yaitu:

a.       Punya sikap positif terhadap diri sendiri.

b.      Punya fungsi-fungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup, salah satunya stress.

c.       Mampu melakukan yang terbaik terhadap dirinya untuk proses mencapai kematangan.

d.      Bisa bersosialisasi dan menerima kehadiran orang lain.

e.       Menemukan adanya minat dan kepuasan pekerjaan yang dilakukan.

f.       Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidup setiap individu.

g.      Memiliki kontrol diri terhadap segala keinginan yang muncul dari dalam diri.

h.      Memiliki perasaan benar dan rasa tanggung jawab atas setiap perbuatan.

Untuk tetap menjaga kesehatan mental pengguna instagram, maka juga harus dibutuhkan niat dari dalam diri pengguna. Meminimalisir dalam melihat akun instagram public figure dan orang-orang yang dapat memancing kita untuk melakukan, membeli, memiliki sesuatu yang pada akhirnya membuat kita menjadi tidak bersyukur, tidak percaya diri, menuntut diri kita untuk bisa seperti mereka, dan bahkan membenci gaya hidup yang biasa-biasa saja



Tentunya, ketika sudah berusaha untuk menerapkan suatu prinsip di diri masing-masing, itu tandanya kita sadar dan perhatian terhadap kesehatan mental.


Komentar